Posts

Aku, Meps dan Beps

Image
Saya pernah cerita tentang bukunya Reda Gaudiamo yang berjudul NaWIlla di sini . Kali ini, saya mau review buku beliau yang lain lagi. Judulnya: Aku, Meps dan Beps (AMB). Buku ini juga seperti NaWilla, diterbitkan secara independen. Dan, ya, kalau mau beli buku ini jangan cari di toko buku besar. AMB hanya dijual di beberapa curated book shop. Bedanya dengan NaWilla, pada AMB ini, Mbak Reda berkolaborasi menulis dengan putri semata wayangnya, Soca. Walau saya tak tahu seberapa besar "intervensi" Mbak Reda pada buku ini, dalam pandanganku, Soca memiliki kemampuan menulis yang baik. Ya seperti anak-anak umumnya, jiwa tulisannya ceria, ekspresif dan banyak lontaran jenaka. AMB tak lain adalah cerita tentang Soca, Ibunya (Meps) dan Bapaknya (Beps). Demikianlah Soca memanggil orang tuanya--yang bahkan ibunya sendiri lupa bagaimana awalnya itu terjadi. Pada AMB, relasi mereka bertiga sebagai orang tua dan anak terlihat sangat cair. Intim, hangat dan ekspresif. Hal-hal yang ...

About forgiving and letting go

Ada dua pelajaran dalam semesta kehidupan yang rasanya sulit dilakukan. Pertama memaafkan dan kedua melepaskan. Keduanya beririsan oleh satu hal: ikhlas. Berat, bok! Ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan. Saya sih lebih sering memaafkan dengan format default: lebaran. Hehehehe. Dan sepertinya belum pernah juga ikhlas melepaskan. (Kalau dalam konteks kehilangan, orang tua dan mertua saya--alhamdulilah--masih komplit.) Tapi sungguh. Saat kamu sakit karena seseorang, akan sulit bagimu untuk kembali melangkah dengan ringan tanpa rasa ikhlas. Sekali lagi, ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan. Saya? Saya ini tipe pendendam. Saya bisa menyimpan luka dan menyayanginya siang-malam agar saya ingat pelajaran apa yang saya dapat. Saya simpan semua memorinya dalam ingatan. Buruknya, saya jadi tak mudah memaafkan--jika sakitnya keterlaluan. Tapi untuk melepaskan, demi moving on, saya masih mampu. Lebih buruknya lagi, itu jadi unfinished business antara saya dan masa lalu saya send...

We All Have Our Own Unspoken Depression

Image
Waktu saya tahu berita kematian vokalis Linkin Park, Chester Bennington, dini hari tadi (waktu Indonesia, tentunya) awalnya muncul rasa duka yang biasa. Tapi menjelang siang, di berbagai platform medsos saya makin banjir postingan duka cita buat Chester. Kematian Chester jelas mengguncang, bukan hanya karena dia famous person. But because the way he died. Suicide. Because of depression. Just like Robin William and Chris Cornell. It is not a new things in Hollywood life but somehow he gets the spotlight. Pada beberapa poin, saya merasa bercermin pada diri sendiri. Bukan, bukan karena saya juga pengen bunuh diri. Tapi bahwa orang seperti Chester, who is obviously has fortune and fame , ternyata bisa menyerahkan hidupnya pada seutas tali. Yaiyalaahh. Suicide can be happen to anyone. The poor one, so we thought he desperate because of money. And the rich, so we thought that money never truly makes people happy. "We all have our own unspoken depression." S...

Lesson learned: why ASI booster never works on me

Punya anak ketiga membuat saya makin mempersiapkan diri untuk (((menyongsong))) masa menyusui. Berharap masa menyusui kali ini akan jauh lebih lancar-aman-terkendali macem arus mudik. Because, both my first and second child are I considered as breastfeed failed back then. Chiya, hanya menyusui sampai usia enam bulan saja. Waktu itu sempat berkali-kali nursing strike which, I didn’t notice and never did something to make it better. Stupid me, yes I know. Puncaknya, dia nursing strike for the whole night and totally refused to breastfeed. I prayed we were still alive when the dawn breaking. (Lebaynyaaaa ga kira-kira.) I did pump breastmilk, with a simple device look like a horn. It was seriously painful, by the way. Since Chiya never likes milk, yes, she also refused it. At last, she drank milk only less than sixty millilitres a day until she was two or three. And she never finished it off. Sementara Levi, di usia dua bulan sempat (((dioplos))) susu formula. Direct breastfeed...

NaWilla dan membalik halaman kisah masa kecil

Image
Saya tak punya banyak buku fiksi yang bercerita soal anak-anak. Maksudnya bukan buku anak-anak lho, ya. Tapi buku yang bercerita tentang anak-anak. Untuk menyebut satu-dua, ada Pangeran Kecil dan Toto Chan. Itu saja. Kalau diingat-ingat, memang buku macam itu agak jarang. Kalaupun ada, ya mungkin bercerita tentang dunia anak-anak dalam perspektif orang dewasa. Padahal, setelah membaca Pangeran Kecil dan Toto Chan, rasanya dunia anak-anak itu seru. Tak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan. Suatu waktu, saya sedang Insta-walking (ya macam blog walking gitulah) di beberapa curated book shops . Lalu saya ketemu postingan NaWilla ini. Buku yang sampulnya berwarna kecoklatan ini belum pernah sekalipun saya lihat di toko buku (setidaknya di satu toko buku besar berinisial G itu). Satu-dua foto masih saya skip . Tapi lalu fotonya makin banyak. Di book shop sebelah juga ada. Wah, seberapa menarik sih buku ini, sampai banyak dijual di Instagram? Sementara saya tak pernah ta...

It's All About the Money, Money, Money

Image
  Kok akuh tersinggung, ya? Kamu? I was scrolling on my Instagram account to look for anything cute to buy. Yes, anything. I would buy a nice blouse or outerwear or a pair of nice flips, you named it. I will buy it. After gave “love” to some pictures here and there, I moved to my virtual bank account to check whether it is quite enough money to buy one or two stuff. There, the moment I saw the number blurry. Gasp, I was broke. My money just enough to pay the admission fee next month. So no nice blouse nor cute flips. And I turned pale. Where did all my money go? Yes, where ALL OF THEM? Is there anyone who stolen my money? The other day, I started to “investigate” through the transaction history. And I found out I was a spendthrift the whole month. Not to mention months before, because I can check the history of the current month only. So, it was me who stolen my own? Wow. I mean W-O-W. Well, I wasn’t a rich girl who has billions on my account. But spend...

Soliloqui Seorang Anak Kecil

Image
Itu adalah Jumat pagi yang sejuk dan damai. Sebetulnya. Hingga tangisku yang menggelegar—seperti biasanya—pecah dan membangunkan adik bayi. Para Orang Dewasa kemudian jengkel. Sebab sebagaimana kau tahu, anak kecil yang menangis adalah gangguan. Apalagi jika suaranya kencang, panjang tak terputus. Memang begitu gaya tangisku. Tangis yang membuat semua orang ingin berpaling sebab suaranya menyebalkan. Tapi tangis tetaplah tangis. Aku menangis sebab aku sedih. Aku menangis kerap kali karena aku kecewa. Kecewa pada diriku sendiri yang tak mampu mengendalikan diriku. Sementara, para Orang Dewasa semua menuntutku untuk segera diam. Bagaimana caranya untuk menghentikan tangis ini? Bagaimana cara agar aku tidak sedih lagi? Adakah cara supaya aku bisa tertawa dan bermain lagi? Tahukah kalian, para Orang Dewasa? Maukah kalian memberitahuku bagaimana caranya? Sayangnya, mereka, para Orang Dewasa, kerap tak menemukan cara yang tepat untuk memberitahuku. Untuk menunjukkan ...