About forgiving and letting go

Ada dua pelajaran dalam semesta kehidupan yang rasanya sulit dilakukan. Pertama memaafkan dan kedua melepaskan. Keduanya beririsan oleh satu hal: ikhlas.

Berat, bok!

Ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan.

Saya sih lebih sering memaafkan dengan format default: lebaran. Hehehehe. Dan sepertinya belum pernah juga ikhlas melepaskan. (Kalau dalam konteks kehilangan, orang tua dan mertua saya--alhamdulilah--masih komplit.)

Tapi sungguh. Saat kamu sakit karena seseorang, akan sulit bagimu untuk kembali melangkah dengan ringan tanpa rasa ikhlas.

Sekali lagi, ikhlas memaafkan dan ikhlas melepaskan.

Saya?

Saya ini tipe pendendam. Saya bisa menyimpan luka dan menyayanginya siang-malam agar saya ingat pelajaran apa yang saya dapat. Saya simpan semua memorinya dalam ingatan.

Buruknya, saya jadi tak mudah memaafkan--jika sakitnya keterlaluan. Tapi untuk melepaskan, demi moving on, saya masih mampu. Lebih buruknya lagi, itu jadi unfinished business antara saya dan masa lalu saya sendiri.

Namun saya berusaha memaafkan diri sendiri. Mungkin karena lalai. Atau terlalu sibuk ngopeni orang lain--anak?--jadi lupa mencintai diri sendiri. Atau mengabaikan ambisi dan merebahkan diri pada zona nyaman yang melenakan.

Yeah. Kita yang membuat persoalan dalam hidup, lalu kita sendiri yang sibuk menata hati. Demi menjalani hidup itu sendiri!

Kadang Tuhan memang hanya ingin tahu bahwa hidup ini lelucon semata.[]

31 July 2017

Comments