Posts

Near-window seat delights

Gue ga tau nama istilahnya, tapi gue menikmati banget duduk deket jendela mobil (atau bus, atau kereta). Dalam masa kuliah, gue biasa pulang-pergi Jogja-Jakarta pake bus malam. It was so calming and soothing back then. Karena amat sangat pfftt sekali kalo gue naek kereta (di mana stasiunnya ada di dunia bagian ujung yang laen), maka gue pilih bus malam yang pool-nya sedekat mungkin dengan rumah. Dulu blom ada Gojek ya guys , jadi abis ngebis, ya gue nyari ojek pangkalan. Pilihan gue adalah bus malam yang low budget dengan bonus kecoak kecil-kecil. Meski gue jengkel setengah mati, entah kenapa gue tetep balik pake bus itu hanya karena itu bus paling deket sama rumah. Yha, mungkin gue kena pelet. Kalo lagi balik ke Jakarta, biasanya kaum-kaum macem gue ini jadi lawan arus mainstream. Misalnya pas mau lebaran. Saat sejuta umat ngukur jalan Daendels dari barat ke timur, gue melenggang tanpa hambatan pada arah sebaliknya. Ini juga yang bikin gue kadang dapet kesempatan milih duduk ...

To bake or not to bake?

Image
This was the first cookies' packaging. I added the Doyle paper for decoration. It is quite sweet tho. Well hello, people. Okay. I am not that well and I don’t want to say hello to everybody because… WHY SHOULD I HAVE TO? And did you notice that I wrote that first sentence not in a pleasant way but in plain, bored and not impressive at all? Did you? Ha? K, chill now. So apparently I don’t feel really okay. IDK either it’s because of my PMS or I'm just deadly bored at home. Whatever it is, this time, I want to share my baking business story with you guys (as if I have tons of readers out there LOL). I started to sell cookies in 2016 when I was in Jogja. It was almond cheese cookies, my first homemade cookies. Yes, I never baked cookies before and that first time came out good. I made it with the best butter brand in town, almond as filling and topping (double almond, guys!) and Edam cheese. It is buttery yet softly cheese flavour but so damn fragile that I have t...

Kambing dan Hujan: sedikit ulasan

Image
“Kambing dan Hujan bisa jadi adalah salah satu roman millenial yang ditulis secara santun.” – aku, 2018 Alhamdulilah, kupanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT sebab akhirnya Kambing dan Hujan khatam dibaca setelah…setahun kayaknya, ya. Huhu.   Begitulah hidupku. Tiap mau tenggelam berkonsentrasi nyelesain baca, salah satu dari dua balita itu tiba-tiba mendekat. Kalo yang kecil bisa dengan gahar ngerampas buku trus ditunggangi sama dia. Kalo balita yang rada gedean palingan kepo aja (tapi sampe nutupin muka, dong). Belakangan aku jadi agak keras kepala karena pas mulai baca lagi, udah lupa ama jalan ceritanya. Yaelah. Jadilah aku bertekad nyikat sampe kelar. (((nyikat))) Kambing dan Hujan adalah buku pertama Mahfud yang kubaca. Sebelum kenal Kambing dan Hujan, di rumah sebetulnya sudah ada Ulid. Buku itu bercover lama dengan gambar seorang perempuan ber tank top . Sempat diceritain ringkasannya tapi kok blom ngerasa pengen baca gitu. Dan hal pertama yang bikin pengen banget...

Random post a.k.a ora cetho blas

Image
Grabbed from here. There were times when you want to post something to your blog but you didn’t know what to write. Zzz. So here I am, typing some words at fifteen to eleven PM alone, in front of a turned-off television (it is only on when the kids are “on”, btw). For me, life begins after ten PM. What am I gonna talk about? Hm. Oh well, I was wondering (or planning?) if someday I write a book. A book that, maybe not even exist in any section in book stores nor that interesting so people will buy it. But I want to. Really want to do it because…it has been my dream for ages, gosh. A book that I am gonna considered it as a gift for myself. It will picture almost everything draws in my life. It might be a reminder, a note, a memorable story, a poem from my journey, …a form of self-love. I have been in love with writings (and also blogging) for almost a decade ago. Been dreaming write my own book too since in college. But the thought of making this happen ...

Bumi Manusia, a book review

Image
Bumi Manusia hampir jadi buku nomer tiga di daftar buku yang gagal (tepatnya: sulit) gue selesaikan setelah Cala Ibi dan Max Havelaar. Ga ngerti, deh, Bumi Manusia ini kok jauh dari ekspektasi gue kalo dibandingkan dengan Gadis Pantai—my Pram’s all time favorite . Berkali-kali putus-nyambung, overlap sama beberapa buku laen, mencoba baca lagi dan rasanya susah banget menghidupkan soul -nya sampe bisa khatam smoothly . Ya mungkin salah gue juga, sih, over expectation . Tapi, coba, ya. Bumi Manusia ini buku paling populer di rangkaian tetralogi Pulau Buru, loh. Mungkin karena buku pertama sih, ya. Di Bumi Manusia karakter Nyai Ontosoroh dan Minke sangat kuat sementara Annelies yang why-she-should-be-like-that banget. How can Nyai has a daughter like Annelies, why? Emang kenapa? Menurut gue dia over manja, cheesy, and sorry to say: beyond alay. Kalo kata laki gue sih itu karena nyokapnya yang keras ke dia. Ini bukan spesifik soal karakternya dia, tapi lebih ke sikapn...

It's About How You Rise Again

Image
The one who taught me to always rise again. Gue ngerasa kadang dalam hidup ada masa di mana gue pengen banget punya kehidupan kayak rangorang di luar sana. Hidup yang…intinya sih bukan kayak apa yang gue punya sekarang, misalnya. Ngerasa hidup orang laen terlihat lebih enak, lebih baik, lebih nyaman. Kenapa? Sebab biasanya saat itu gue ngerasa hidup gue lagi “di bawah”. Semacam lagi pait, gitulah. Bahkan kadang, gue ngerasa diri gue lagi “ujian kenaikan kelas”. Makanya, segala yang gue lihat di luar diri gue seolah-olah lebih enak. Pernah kayak gitu kan? Well, I was thinking that way until several life lessons brought me to a new perspective. Bahwa: hidup enaklah yang justru ujian. Sementara hidup yang kerap kita sebut sebagai “ujian” itu adalah pembelajaran. Kok bisa? Anggaplah gue ini pegawai baru. Di awal masa penyesuaian gue mencoba untuk fit in , no matter what . Bos kejam, teman oportunis, jam lembur pait, perjalanan pergi-pulang yang sumpek da...