Posts

Anggun dan proses bargain dengan anak

Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman saya menemani Chiya makan sore di luar rumah. Sembari menyuapi, biasanya dia bermain dengan beberapa temannya yang juga sedang makan sore. Kemudian ada temannya yang bernama Anggun yang tak mau makan dan terus menghindari ibunya. Ibunya dengan tergopoh-gopoh mengejar anak-anaknya yang bermain sepeda dan jalan-jalan. Selain Anggun ada adik lelakinya yang biasanya juga disuapi ibunya setiap sore. Repotnya, selain harus bergantian mengejar-ngejar anak-anaknya, si ibu juga harus meladeni permintaan mereka yang macam-macam. Seperti pada sore itu, adiknya Anggun mau makan meski dengan jalan-jalan ke sana kemari. Lalu ketika gilirannya untuk menyuap, Anggun beralasan ini-itu, dia minta dibikinkan es teh, barulah dia mau makan. Sebetulnya, pada momen inilah terjadi proses bargain atau tawar menawar. Sang ibu ternyata tak kuasa pada rewelan anaknya itu. Mungkin karena lelah juga. Kemudian ia masuk rumah dan tak lama membawa segelas es teh dengan es bat...

sekolah atau belum? [part II]

Image
Aktivitas belajar di rumah Chiya tambah seru!! Karena saya mulai menemukan sumber belajar dan aktivitas menyenangkan untuknya. Misalnya, mewarnai. Jika sebelumnya ia mewarnai di buku-buku mewarnai yang tipis dan murah itu, maka lama-lama ia bosan dan kehabisan halaman lagi. Sebab, hampir dalam tiap aktivitas belajarnya ia mewarnai. Hingga akhirnya saya mulai mencari-cari coloring page yang printable untuknya. Dan, taadaa!! Dia tidak pernah kehabisan lembar mewarnai lagi. Selain itu, dia lebih semangat dengan lembar mewarnai yang diunduh ini. Mungkin karena dia bisa memilih sendiri gambar-gambar yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh kartun yang dia senangi. Hasilnya, dia mau lebih telaten untuk tidak terburu-buru menyelesaikan lembar mewarnainya. Kapan-kapan saya unggah foto-fotonya. hasil karya Chiya yang ditempel di dinding  Lalu, tentu saja: buku. Entah, kami merasa belakangan ini Chiya makin "maniak buku". Soalnya ketika kami ke toko buku (dan masing-masing dari ka...

sekolah atau belum?

Adalah hal biasa jika bertemu dengan anak usia tiga-empat tahun dan bertanya: sudah sekolah belum? Chiya juga kerap bertemu dengan pertanyaan itu. Dan tentu saja ia jawab: belum! Karena memang ia belum ikut aktivitas preshcool apapun. Bahkan PAUD. Bukan apa-apa, kami punya beberapa pertimbangan. Pertama, ia masih punya saya, bundanya, yang masih bisa menemaninya di rumah. Kedua, jujur saja, kami masih bingung dengan pilihan orientasi preshcool ini. Misalnya, apakah kami ingin memilih sekolah dengan orientasi agama atau yang konvensional saja. Lalu pertanyaan jangka panjangnya: bagaimana merancang masa studinya sampai ia masuk sekolah dasar nanti. Sebab, di Jakarta sudah ada regulasi soal limit minimum untuk usia masuk sekolah dasar. Jadi, sepintar apapun si anak, jika usianya belum genap enam setengah tahu, ia tidak akan diterima. Bahkan jika kurang sebulan saja. Maka itu, kami juga berpkir tentang antisipasi apabila nanti Chiya jenuh bersekolah. Just in case . Pertimbangan lain adal...

Teras Bunda: an early preview

Ketika saya menemukan buku atau majalah murah, saya kerap kembali diingatkan tentang mimpi membuat pondok baca untuk para ibu. Saya sebetulnya begitu bergairah untuk mewujudkan ini, namun laiknya mimpi, saya juga menemui banyak kendala. Meski masih dalam level preview awal. Kali ini, saya ingin berbagi tentang dua hal itu: passion dan tantangan Teras Bunda (saya menamakannya demikian dan saya sadar ini masih terlalu dini). Niat awal dan beberapa kemungkinan Tentang mengapa saya sampai pada sebuah ide untuk membuat Teras Bunda, saya sudah pernah menulisnya di blog ini . Pertama, saya percaya bahwa para ibu deserved something more . They deserved an extended space except home . Saya sangat percaya bahwa mereka juga butuh untuk tetap beraktualisasi diri, meski hanya sebagai perempuan rumah. Kedua, kecintaan akan membaca harus dimulai dari sebuah kebiasaan dari rumah, dari keluarga.  Dan apparatus terdekat dalam keluarga antara generasi orang tua dan anak adalah ibu. Meski peran aya...

me, nowadays...

Sebetulnya menjadi ibu rumah tangga adalah peran dengan banyak pekerjaan. Terlalu banyak, malah. Namun, sepindahnya kami dari Jogja ke Jakarta, semua berubah. Beberapa pekerjaan yang biasa saya lalukan di Jogja, sudah tidak jadi rutinitas lagi. Misalnya, bicycling bersama Chiya ke pasar, hampir setiap hari. Juga memasak dan mondar-mandir dapur dan halaman belakang untuk mengecek jemuran. Di sini, urusan memasak sudah tidak serumit dulu. Ada penjual lauk-pauk yang setiap pagi keliling dan menghampiri rumah. Yang penting adalah makanan untuk Chiya, kalau untuk yang dewasa, apa saja mau! Kalau malas masak, bisa beli ayam goreng, soto, atau cuma bikin telur dadar saja, beres. Untuk menemani Chiya, juga sudah tidak seintens dulu. Sebagian hati saya senang, karena saya bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan leluasa atau sekedar membaca, menulis atau ke warnet. Sebagian hati saya yang lain merindukan momen intim itu. Meski masih ada jam tidur siang yang bisa membuat saya bisa bermesraan den...

Mami, sebuah cerita

Saya menyebut ibu saya dengan panggilan Mami. Entah sejak kapan. Yang saya hanya ingat hanyalah bahwa saya kurang suka dengan panggilan "ibu". Jadilah saya mengubah panggilan ibu dengan Mami. Dan yang penting ia tidak protes. Bahkan adik saya juga ikut-ikutan menggunakan nama panggilan itu. Meski untuk bapak, saya tetap memanggilnya Bapak. Saya pun sadar kombinasi Mami dan Bapak tidaklah cocok didengar. namun bagaimana pun saya lebih senang memanggilnya Mami. Sampai sekarang. Beliau masih mengajar di sebuah SD negeri di daerah Bintaro. Saya begitu senang mendengar cerita-ceritanya tentang murid-muridnya. Banyak yang lucu-lucu. Ceritanya yang paling baru adalah tentang salah seorang muridnya yang baru saja kehilangan ponsel. (Sekolah Mami memang banyak terdapat anak-anak orang kaya.) Nah, setelah anak yang kehilangan ini cerita kepada orang tuanya, lalu orang tuanya pun menyampaikannya kepada Mami. Sebagai langkah awal, Mami dan ibu dari anak itu menggeledah isi tas semua ana...

a liltte adventure of Chiya

Banyak sudah yang berubah dari Chiya. Selain ia tambah tinggi, ada beberapa hal positif yang ia perlihatkan pada kami dari hari ke hari. Menyenangkan, bisa melihatnya terus tumbuh dan terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang ada belakangan ini. Kelihatannya ia memang sedang menunjukkan bahwa ia sedang bertransformasi ke dalam fase "anak gede", seperti yang sering ia katakan pada kami. inilah beberapa progress things yang sedang ia alami belakangan ini... kosakata yang ia ketahui semakin banyak . Ini dapat diketahui tiap ia ngoceh setiap saat, kapan pun... Contoh kosakata yang sering ia gunakan belakangan ini antara lain: produk, berfungsi, masyarakat, dan lain-lain (banyak sekali, saya sampai lupa!). Yang pasti, kata-kata tersebut merupakan diksi yang jarang saya dengar dari mulut mungil seorang anak tiga tahun. And I dont have any idea about where's did she get those words from...still wondering ... ia butuh sesuatu yang lebih menantang, seperti naik k...