Posts

Selamat tinggal(, April)!

Image
Aku terbangun pagi ini dengan rasa yang kosong. Suwung. Seperti berada di kehidupan yang lain. "Aku" yang lain. Tak apa. Kita pasti baik-baik saja.[]

I miss you, ma gals!

Image
I fell blessed surrounded by amazing girls. The most amazing days started when I was in college. It was fun, thrilled, whatever you named about it and memorable. To look back on today, really, I truly missed them much. It is not because we chose to apart. And by apart, yes, we have separated miles away but no, it is not about we pulled ourself away. Well, I hope so. This post aims to praise them as my cool, beautiful, smart, witty and that-is-the-way-they-are friends because, hell, I am fucking missed you, girls! When you are read this and you feel that it is YOU I am writing about, yeah, you know that it is you! Do you remember when we spent a cold night until the dawn breaking somewhere in Kaliurang? Or when we spent our spare times during class in the library, canteen or sat under the tree and sometimes compared ourself with the French buddies? Do you remember when we spent the whole night during Ramadhan finishing our paper since breakfasting time until almost morn...

Ave Maryam: kelindan cinta (ato nafsu?) antar manusia di tengah agama

Image
Souce: here Hari Minggu kemarin, gue berkesempatan nonton Ave Maryam. Ave Maryam ini konon film yang udah keliling di beberapa festival film internasional sejak 2018 , baru kemudian membuka layar melalui bioskop ke penonton nusantara. Rasa-rasanya dalam beberapa tahun ini, film-film berkualitas memilih untuk ikut festival film internasional dulu baru kemudian ngasih kesempatan penonton tanah air lewat bisokop. Ini bisa jadi adalah strategi pembuat film yang karyanya memang tidak ditujukan untuk industri film arus utama. Jadi alih-alih "cek ombak" di negeri sendiri, mereka justru langsung jemput bola ke berbagai festival film internasional. Soalnya mungkin sering "cek ombak" tapi yang ada malah dapet kontroversi. Padahal ketika ketemu festival film internasional, karya-karya itu masuk nominasi atau malah jadi pemenang. Karena bukan jenis film arus utama yang bisa mengakomodasi banyak kategori penonton, maka Ave Maryam ini bakal gak lama dapet jatah layar...

Why I Installed Medium (and then uninstalled and reinstalled again)

Image
pict source Having a blog since 2010 makes me didn’t want another blogging platform simply because I can’t put both legs on more than one blog. I am truly realized that I am not that productive to post regularly. If so, why should I have to have a new one? Talking about the blog post, which I considered as long-form random writing, I even can not upload something in Facebook status just as long as the blog post like almost everybody does. I just can’t do it whether because I can’t distinguish between where to post a long piece or I just want to collect all of my random-long writing just in one place. On the contrary, whenever a new writing platform appears, I didn’t bother to try. Medium was one of those new blogging platforms I ever tried. I once saw it because somebody on Twitter shared the link. I have to admit that m y first impression about Medium was it has a beautiful and neat interface I love. It is kind of blog site theme I always crave for. It is a mobile blo...

Hanya membelikan anak buku bukanlah bukti Anda sedang tumbuhkan minat literasinya

Image
Don't you love this scene? (Pict from here .) Dulu waktu gue kerja di sebuah workshop advertising , gue berteman dengan beberapa ibu-ibu yang (sayangnya) ga suka baca buku. Katanya paling mentok baca majalah. Jadi di sana gue ga punya sparing partner ngegosipin buku mutakhir. Waktu gue tanya kenapa gak suka? (Salah satu) jawabannya: pegang buku tuh bikin ngantuk. YHA~ Karena semangat gue yang geday buat nularin virus ngegosipin buku, maka gue bawa beberapa buku dan majalah yang menurut gue bisa mereka sukai sebagai pembaca pemula. Buset. Umur tiga puluh baru “pemula”! Yeah, gapapa. Daripada ga sama sekali ya, kan. Tapi tau ga, yang gue heran adalah mereka lulusan strata satu, lho. Iya. Gimana mereka bisa “meluluskan diri” menulis skripsi tanpa baca buku cobak? Gimana caranya mereka membuat diri mereka paham materi kuliahnya tanpa membaca? Atau jangan-jangan mereka pegang buku hanya jika momen ujian dan skripsi aja? Ya, pantes sih kalo gitu, mah. Soal it...

Lelaki Sepi yang Kembali

Jika ada seorang lelaki datang Dengan segenggam pasir di tangan Biarkan saja Ia hanya ingin singgah   Ia akan memintamu sebuah mangkuk Untuk menaruh pasir itu Maka ambilkan satu Mangkuk serupa beledu kesayanganku   Mungkin ia membawa satu anak penyu Lelaki setengah gila itu Yang ia simpan di saku celananya Bertahan sejak pantai selatan sana   Bila dia mulai bercerita, dengarkan sebentar Ia takkan lama Sebab biasanya lalu menangis Lalu teriak Lalu lari sambil bilang, Aku mau cari cari   Jika dia tak kembali, tutup pintunya Tapi jika ia menuju makam, maka pasti balik lagi Biasanya ia akan petik satu kuntum kembang sepatu Kemudian ke makam lagi Bernyanyi atau merapal sesuatu, entah tak ada beda   Bisa jadi lama ia di sana Lama sekali Tapi jangan tutup pintunya Ia pasti datang lagi Dengan wajah sedikit lebih waras Dan basah air mata   Kalau dia bertanya apakah Kau adalah suamiku Katakan iya sejak delapan ...

Near-window seat delights

Gue ga tau nama istilahnya, tapi gue menikmati banget duduk deket jendela mobil (atau bus, atau kereta). Dalam masa kuliah, gue biasa pulang-pergi Jogja-Jakarta pake bus malam. It was so calming and soothing back then. Karena amat sangat pfftt sekali kalo gue naek kereta (di mana stasiunnya ada di dunia bagian ujung yang laen), maka gue pilih bus malam yang pool-nya sedekat mungkin dengan rumah. Dulu blom ada Gojek ya guys , jadi abis ngebis, ya gue nyari ojek pangkalan. Pilihan gue adalah bus malam yang low budget dengan bonus kecoak kecil-kecil. Meski gue jengkel setengah mati, entah kenapa gue tetep balik pake bus itu hanya karena itu bus paling deket sama rumah. Yha, mungkin gue kena pelet. Kalo lagi balik ke Jakarta, biasanya kaum-kaum macem gue ini jadi lawan arus mainstream. Misalnya pas mau lebaran. Saat sejuta umat ngukur jalan Daendels dari barat ke timur, gue melenggang tanpa hambatan pada arah sebaliknya. Ini juga yang bikin gue kadang dapet kesempatan milih duduk ...