Posts

book review III: cerita-cerita di dunia Cinderella

Image
Ada dua hal mengapa saya tak pernah sanggup menyelesaikan sebuah buku untuk dibaca. Pertama, karena buku itu terlalu “nyastro” alias kadar sastranya terlampau “keras” untuk seorang penikmat buku biasa seperti saya. Untuk poin pertama ini contohnya adalah Cala Ibi karya Nukila Amal. Sampai sekarang buku itu belum khatam. Kedua, sebaliknya, justru ketika kualitas buku itu terlalu “buruk” sehingga saya tak lagi sanggup membuka lembar per-lembar sampai akhir halaman. Untuk kali ini, sepertinya buku yang akan saya tinjau ini masuk poin yang kedua. Saya takkan mau menyebut nama asli atau nama penanya. Ini saya lakukan hanya agar para penggemar tulisannya tidak merasa terintimidasi oleh tulisan saya ini. Bagaimana pun semua hal tidak pernah bebas nilai. Semua hal tak lepas dari subyektivitas. Namun, betapapun tidak obyektifnya saya, tulisan ini masih layak dinikmati. Hanya sebagai sebuah book review sederhana saja. Dan di sini, saya akan menyebut penulis perempuan ini sebagai Lady Gaga—...

book review II: Tatyana dan ini-itunya rumah tangga

Image
Bagi sebagian orang, hal-hal perkara rumah tangga mungkin dianggap sangat tidak menarik dan (mungkin) membosankan. Membahasnya saja enggan, apalagi berniat menulisnya. Namun, coba bacalah tulisan Tatyana. Ia mampu mengubah persepsi bahwa rumah tangga dan segala embel-embelnya yang (tadinya) membosankan menjadi sesuatu dengan perspektif yang lucu, menarik, dan bahkan membuat terenyuh. Bacalah kedua bukunya, “ Jakarta Kafe ” (selanjutnya disingkat JK) atau " Single Mom’s Day Out " (selanjutnya disingkat SMDO) , keduanya menjanjikan cerita-cerita tentang relasi manusia dalam pernikahan: masih dalam status pernikahan atau yang sudah tidak dalam ikatan itu lagi. Semuanya, sama segarnya. Mungkin, semua orang tahu, soal ke-rumah tangga-an adalah ranah yang sensitif dan membutuhkan kedewasaan level tertentu untuk dapat memahaminya secara mendalam. Selain itu, secara sosial pintu pernikahan yang mengantarkan seseorang pada ranah rumah tangga, juga mewajibkan seseorang itu untuk ber...

book review I: perkenalan dengan (tulisan-tulisan) Kembangmanggis

Image
Saya belum pernah mendengar nama Kembangmanggis dalam ranah tulis-menulis sebelumnya. Sampai akhirnya suami saya membeli salah satu bukunya yang berjudul: Burung-burung Kecil. Buku itu kecil dan tipis dan merupakan pemenang lomba novelet FEMINA pada tahun 1990. Namun, saya agak heran juga, mengapa buku itu baru diterbitkan pada tahun 2002, ya? Tetapi di luar itu semua, saya punya kekaguman pada konsistensi berbahasa tulisnya yang menawan. Beberapa karyanya Burung-burung Kecil berkisah tentang dunia anak jalanan: baik di jalan ataupun di luar wilayah itu. Seorang anak jalanan yang menjadi sorot utama adalah Eges, yang sangat disayangi oleh sosok Ibu, seorang perempuan pemilik beberapa rumah asuh. Perjalanan hubungan antara tokoh Ibu dan anak-anak asuhnya mendominasi keseluruhan warna cerita. Oleh Ibu, anak-anak asuhnya itu ia umpamakan layaknya burung-burung kecil yang bebas. Suatu waktu mereka ingin berhenti terbang dan hinggap sejenak. Namun tak lama mereka haus akan terbang kembali....

Being Mom

Image
  Sejauh dua tahun saya menjadi ibu, saya selalu meyakinkan diri bahwa menjadi ibu adalah menyenangkan. Saya tidak menyatakan selalu menyenangkan, karena saya juga percaya setiap hal punya dua sisi: enak-tidak enak. Klise. Begitu pula tentang being mom (eh eh, saya jadi ingat judul skripsi saya), ada enaknya dan tentu ada juga pahitnya. Semua punya bagiannya masing-masing. Tapi bagaimana pun, saya tetap yakin, being mom is fun. Keyakinan saya itu tidak ahistoris, sesuatu yang tiba-tiba ada tanpa cerita. Saya memulainya sesaat setelah bayi saya diangkat dari rahim yang disayat. Duh, semua pengalaman hidup paling manis hingga yang terpahit sekalipun lebur oleh satu momen: tangis bayi merah Fathiya. Saya takjub karena seorang makhluk seperti saya mampu memberi dunia seorang manusia mungil. Saya bahagia karena makhluk mungil yang selama ini kerap menendangi dan menyesaki perut lahir dengan selamat. Saya sedih karena ia menangis. Apapun itu, saya menangis. Dari situ, tentu saja ...

Buku, cerita, dan Chiya

Image
Sekarang, hampir tiap mau tidur, Chiya menagih untuk diceritakan sesuatu. Biasanya dia yang memilihkan tokoh utamanya; segala jenis binatang. Sebab dalam referensi "ke-binatang-an"nya tak ada diferensiasi seperti binatang buas, jelek, liar, atau bagus. Menurutnya semua bisa dijadikan tokoh untuk memerankan peran utama. Mulai dari tokek, jangkrik, belalang, kecoa sampai nyamuk. Namun bukan berarti binatang familiar lain macam ikan paus atau kura-kura tak disebutnya. Mungkin binatang-binatang kecil-kecil itu sebagai komplemen, agar ia tak bosan. Masalahnya, kami bercerita tidak merujuk pada buku apapun alias improve dewe!! Kalau dulu ia hanya minta cerita sebelum tidur malam, nah belakangan ini sebelum tidur siang juga. Untung kami tidak pernah kehabisan ide. Hampir semua cerita ada pesan moralnya. Meski ga sepenting "mengamalkan Pancasila". Hehehe... Nah, kalau dipikir-pikir ke belakang, minatnya untuk mendengar cerita ternyata dimulai ketika ...