Posts

Mami, sebuah cerita

Saya menyebut ibu saya dengan panggilan Mami. Entah sejak kapan. Yang saya hanya ingat hanyalah bahwa saya kurang suka dengan panggilan "ibu". Jadilah saya mengubah panggilan ibu dengan Mami. Dan yang penting ia tidak protes. Bahkan adik saya juga ikut-ikutan menggunakan nama panggilan itu. Meski untuk bapak, saya tetap memanggilnya Bapak. Saya pun sadar kombinasi Mami dan Bapak tidaklah cocok didengar. namun bagaimana pun saya lebih senang memanggilnya Mami. Sampai sekarang. Beliau masih mengajar di sebuah SD negeri di daerah Bintaro. Saya begitu senang mendengar cerita-ceritanya tentang murid-muridnya. Banyak yang lucu-lucu. Ceritanya yang paling baru adalah tentang salah seorang muridnya yang baru saja kehilangan ponsel. (Sekolah Mami memang banyak terdapat anak-anak orang kaya.) Nah, setelah anak yang kehilangan ini cerita kepada orang tuanya, lalu orang tuanya pun menyampaikannya kepada Mami. Sebagai langkah awal, Mami dan ibu dari anak itu menggeledah isi tas semua ana...

a liltte adventure of Chiya

Banyak sudah yang berubah dari Chiya. Selain ia tambah tinggi, ada beberapa hal positif yang ia perlihatkan pada kami dari hari ke hari. Menyenangkan, bisa melihatnya terus tumbuh dan terus menunjukkan perkembangan yang baik. Seperti yang ada belakangan ini. Kelihatannya ia memang sedang menunjukkan bahwa ia sedang bertransformasi ke dalam fase "anak gede", seperti yang sering ia katakan pada kami. inilah beberapa progress things yang sedang ia alami belakangan ini... kosakata yang ia ketahui semakin banyak . Ini dapat diketahui tiap ia ngoceh setiap saat, kapan pun... Contoh kosakata yang sering ia gunakan belakangan ini antara lain: produk, berfungsi, masyarakat, dan lain-lain (banyak sekali, saya sampai lupa!). Yang pasti, kata-kata tersebut merupakan diksi yang jarang saya dengar dari mulut mungil seorang anak tiga tahun. And I dont have any idea about where's did she get those words from...still wondering ... ia butuh sesuatu yang lebih menantang, seperti naik k...

well, finally...

Akhirnya, bisa menulis lagi... Saya memang sedang kena penyakit gatal-gatal. gatal nulis, gatal baca, gatal earn money , pokoknya gatal do something . Dan sejauh ini, ada beberapa personal project yang mau saya jalankan. Tetapi karena bagaimana pun juga saya tetap harus memprioritaskan peran saya sebagai housewife , maka baru beberapa hal yang saya jalankan. Itu pun seolah-olah baru preview nya saja. Toh saya tidak ngoyo dan tidak terburu-buru. Saya masih seorang ibu dan saya tetap bermimpi. Do both things equally, and i'd still be happy!!

welcome to this brand new blog!!

Sebetulnya tidak ingin mendua. Tapi apa boleh buat, blog saya yang pertama dan tercinta, mess up . Karena satu dan banyak hal, saya sebenarnya tidak ingin menghapusnya. Macam cinta pertama, saya begitu ingin anthrogynous tetap di sana, Menemani saya menikmati sepetak ruang, hanya untuk saya sendiri saja. Tapi, apa boleh buat. Kami harus berpisah secepat ini. Saya harus belajar melepaskannya... Sedih rasanya. Mengingat sudah cukup banyak tulisan saya di sana. Juga nama yang (menurut saya) begitu lucu. Sebuah nama yang saya temukan bertahun-tahun lalu dan hanya saya simpan dalam hati saja. Sampai akhirnya saya merasa ada waktu yang tepat untuk menggunakannya. Bye anthrogynous ... Kelak, jika saya masih bisa "menyelamatlanmu", saya akan menghidupkan kamu kembali... Sebab bagaimana pun juga nama dizzy anggie terasa begitu aneh...

Gadis Pantai: membaca Pram dan membaca perempuan

Image
Picture from here. Tidak banyak buku yang benar-benar saya senangi. Apalagi jika penulisnya laki-laki. No offense , tidak bermaksud seksis, tapi kenyataannya saya lebih cenderung suka tulisan-tulisan penulis perempuan. Dan penulis-penulis yang saya gemari itu standar saja, maksudnya, mereka adalah nama-nama yang kerap didengar dalam ranah sastra. Sebut saja: Dewi Lestari, Ayu Utami, atau Djenar. Tapi bukan berati saya betul-betul menutup mata pada karya-karya penulis lelaki--meski jumlahnya tidak sebanyak penulis perempuan. Seperti banyak penikmat buku lain, saya suka membaca karya Pramoedya. Dan saya sampai saat ini belum pernah membaca tertraloginya. Haha! Saya agak susah membaca tulisan bagus seperti itu. Tetralogi terlampau apik untuk seorang penikmat buku (sangat) biasa seperti saya. Saya sudah sering mendengar betapa Pram lihai membuat cerita yang berlatar sejarah Indonesia. Terutama dari suami saya--si kutu buku itu, hehe. Alih-alih tetap ingin "menikmati Pram", say...

namanya (juga) mimpi

Saya, sama halnya dengan banyak orang lain, juga punya mimpi. Punya cita-cita. Mimpi saya yang paling kini sudah ada sejak tahun-tahun terakhir di kampus. Layaknya menulis, mimpi yang sudah naik cetak dan sedang dalam perjalanan untuk diwujudkan, juga mengalami fase edit, koreksi atau ralat. Namun, koreksi itu dilakukan bukan karena (tiba-tiba) saya berubah pikiran dan menginginkan mimpi lain, melainkan dalam perjalanan tersebut, si mimpi harus melakukan serangkaian mimikri.  Ia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan hidup saya dan berbagai kendala yang merintangi. Ya, mimpi saya itu HARUS fleksibel. Sebab di satu sisi saya tak ingin disorientasi, sementara di sisi lain, saya juga tak mau menyerah dan mengganti mimpi saya hanya karena kondisi saya yang belum memungkinkan. Sejauh ini, saya masih menggenggam kuat mimpi saya itu. Mimpi lawas, namun terus saya perbarui metode dan jangka waktunya. Tak harus terikat deadline . Sebab saya masih ingin hidup yang lama (amien). Juga saya s...

sebuah mimpi besar untuk para ibu

Pengalaman pribadi saya saat menjadi stay at home mom , membuat saya belajar banyak hal. Selain belajar menjadi istri dan ibu yang (lebih) baik, saya juga belajar untuk tetap menghargai diri saya. Menjadi ibu, bagaimana pun adalah sebuah kontrak seumur hidup.  Tidak ada hari libur atau cuti bagi peran ini. Justru itu, peran ini membutuhkan komitmen yang kuat agar ada keseimbangan yang bisa dicapai antara kebahagiaan bersama juga kebahagiaan personal. Kebahagiaan personal ini juga penting untuk para ibu agar secara psikis mereka bisa tetap menjadi diri sendiri serta tetap bisa mewujudkan mimpi yang selama ini mereka punya. Jika para ibu tidak memiliki orang lain yang membantu mereka di rumah ( helper, babysitter , atau orang tua/mertua), maka rencana untuk mewujudkan mimpi mungkin tetap akan hanya memjadi mimpi. Cita-cita itu terkekang di dalam ruang bernama rumah. Pengecualian bila partner hidup masih bisa diajak kompromi.  Misalnya dengan bergantian mengurus rumah atau anak, ...